Senin, 02 Nov 2026
Beranda › Berita
Berita

Inflasi Indonesia Oktober 2026 Tembus 3,23%, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama

✍️ Ratna Puspitasari 🕒 02 Nov 2026 👁️ 3x dibaca
Foto: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono saat menyampaikan rilis BPS pada Senin (2/11/2026).
Foto: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono saat menyampaikan rilis BPS pada Senin (2/11/2026). Foto: Tangkapan Layar Youtube/ BPS Statistics

IniKabarku.com - Inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,23% pada Oktober 2026, mendekati batas atas sasaran inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah sebesar 3,5%. Kenaikan harga pangan, transportasi, serta perawatan pribadi menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan harga barang dan jasa sepanjang satu tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (yoy) tersebut terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa inflasi tahunan terutama dipengaruhi oleh tiga kelompok pengeluaran, yakni makanan, minuman dan tembakau; transportasi; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

"Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 4,82% dengan andil inflasi sebesar 1,40%," ujar Ateng dalam konferensi pers bulanan BPS, Senin (2/11/2026).

Sasaran inflasi pemerintah dan BI pada 2026 berada di kisaran 1,5%-3,5%. Dengan realisasi inflasi sebesar 3,23%, posisi inflasi nasional kini semakin dekat dengan ambang tertinggi sasaran tersebut.

Harga Pangan dan Transportasi Sumbang Inflasi Terbesar

Berdasarkan data BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan sebesar 4,82% dengan kontribusi 1,40% terhadap inflasi nasional.

Sejumlah komoditas yang memberikan tekanan harga terbesar dalam kelompok ini meliputi cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), dan daging sapi.

Selain pangan, sektor transportasi juga menjadi penyumbang inflasi yang cukup besar. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan sebesar 4,87% dengan andil 0,59%.

Ateng menjelaskan, kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, serta biaya perawatan dan servis kendaraan bermotor menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada kelompok transportasi.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi sebesar 4,52% dengan kontribusi 0,32%. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi salah satu faktor dominan yang memengaruhi kelompok pengeluaran tersebut.

Inflasi Inti Memberikan Kontribusi Terbesar

Jika dilihat berdasarkan komponen pembentuknya, seluruh komponen inflasi mengalami kenaikan pada Oktober 2026.

Komponen inflasi inti tercatat sebesar 2,56% dengan andil mencapai 1,64%. Kontribusi tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan komponen lainnya.

Sejumlah komoditas yang dominan memengaruhi inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop, dan pelumas.

Berikutnya, komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices mengalami inflasi sebesar 3,24% dengan kontribusi 0,63%.

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada komponen ini antara lain bensin, tarif angkutan udara, susu kental manis, dan bahan bakar rumah tangga."

Adapun komponen harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi tahunan sebesar 5,81% dengan andil 0,96%.

Menurut BPS, sejumlah komoditas pangan yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi pada komponen ini mencakup cabai rawit, beras, daging ayam ras, daging sapi, tomat, dan cabai merah.

Sulawesi Utara Catat Inflasi Tertinggi

Dari perspektif kewilayahan, tekanan kenaikan harga terjadi di seluruh provinsi Indonesia selama Oktober 2026.

BPS mencatat Sulawesi Utara menjadi provinsi dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni mencapai 8,07%. Sebaliknya, DKI Jakarta mencatat inflasi terendah sebesar 2,52%.

Perbedaan angka inflasi tersebut menunjukkan adanya variasi tekanan harga antardaerah. Kondisi ini berkaitan dengan pergerakan harga komoditas serta karakteristik konsumsi masyarakat di masing-masing wilayah.

Inflasi Bulanan Oktober 2026 Sebesar 0,22%

Selain inflasi tahunan, BPS juga melaporkan perkembangan harga secara bulanan atau month to month (mtm).

Pada Oktober 2026, Indonesia mengalami inflasi bulanan sebesar 0,22%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan andil sebesar 0,15%.

Sejumlah komoditas yang mendorong kenaikan harga bulanan antara lain cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam, dan sawi putih.

Dengan realisasi inflasi tahunan sebesar 3,23%, perkembangan harga pada Oktober menjadi perhatian karena posisinya sudah mendekati batas atas sasaran inflasi 2026 sebesar 3,5%.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update