Investor Asing Ramai Akumulasi Saham BEI, ENRG Catat Net Buy Rp289,2 Miliar
IniKabarku.com - Arus pembelian investor asing masih mengalir ke sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), meskipun pasar saham domestik tengah menghadapi tekanan jual. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menjadi emiten dengan nilai pembelian bersih asing tertinggi pada Senin (2/11/2026), yakni mencapai Rp289,2 miliar, dilansir dari Investasi.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menempati urutan berikutnya dengan net foreign buy sebesar Rp47,7 miliar. Kemudian, PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan pembelian bersih Rp38,9 miliar.
Dua emiten lainnya, yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), masing-masing memperoleh aliran dana asing sebesar Rp32,1 miliar.
Minat investor asing juga terlihat pada saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC). PT MD Entertainment Tbk (FILM) membukukan net foreign buy Rp23,1 miliar, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp19,9 miliar dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) senilai Rp2,2 miliar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memandang aktivitas tersebut sebagai indikasi pergeseran investasi antarsektor. Investor juga dinilai mulai memburu saham yang sudah mengalami penurunan harga dengan mempertimbangkan peluang pemulihannya.
Menurut Nafan, investor institusi global masih mencermati katalis yang dimiliki masing-masing perusahaan. Beberapa pertimbangan utama meliputi prospek kenaikan harga komoditas energi dan pertambangan, strategi ekspansi bisnis, serta kekuatan fundamental emiten.
Saham-saham HSC turut menarik perhatian karena menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang maupun peluang transaksi untuk jangka pendek.
"Meskipun konsentrasi kepemilikan saham pada daftar HSC tergolong tinggi dan membawa risiko terbatasnya likuiditas, katalis fundamental dan ekspansi bisnis dari emiten-emiten tersebut tetap menjadi daya tarik akumulasi portofolio," ujar Nafan.
Ia menjelaskan, prospek pertumbuhan setiap perusahaan memiliki sumber pendorong yang berbeda. BRMS dan PSAB, misalnya, berpotensi diuntungkan oleh kenaikan harga emas dunia serta peningkatan kapasitas produksi. Sementara itu, PTRO memiliki peluang pertumbuhan dari pengerjaan proyek infrastruktur dan pertambangan baru.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, juga menilai bahwa keputusan investor asing dalam mengakumulasi saham umumnya didorong oleh katalis spesifik perusahaan.
ENRG mendapatkan perhatian berkat investasinya pada aset minyak dan gas bumi di Amerika Serikat. Adapun BRMS memiliki prospek yang ditopang oleh pemulihan produksi emas.
Di sisi lain, PTRO memiliki potensi dari kontrak jasa pertambangan berjangka panjang. BBRI juga mulai menarik minat karena valuasinya telah mengalami diskon cukup dalam. Meski demikian, perkembangan kualitas kredit pada segmen mikro tetap menjadi aspek yang harus diperhatikan.
Abida mengingatkan bahwa pembelian bersih asing pada sejumlah saham HSC masih memiliki nilai relatif kecil. Kondisi tersebut perlu dicermati mengingat konsentrasi kepemilikan yang tinggi berpotensi mempersempit likuiditas perdagangan saham.
Ia menilai transaksi net foreign buy dapat menjadi petunjuk awal mengenai minat investor terhadap suatu emiten. Namun, pembelian yang hanya berlangsung selama satu atau dua hari perdagangan belum bisa dijadikan bukti bahwa investor asing sedang melakukan akumulasi secara berkelanjutan.
Karena itu, investor disarankan mengamati konsistensi transaksi asing selama beberapa hari perdagangan serta menilai kesesuaiannya dengan kondisi fundamental perusahaan.
"Untuk saham HSC, kehati-hatian perlu ditingkatkan karena free float yang terbatas membuat harga lebih rentan bergejolak, terlebih setelah saham-saham tersebut dikecualikan dari perhitungan IHSG," ujar Abida.
