Kamis, 05 Nov 2026
Beranda › Berita
Berita

Kemenperin Dorong IKM Pangan Bermitra dengan Industri Besar Lewat IFI 2026

✍️ Ratna Puspitasari 🕒 05 Nov 2026 👁️ 1x dibaca
Gelaran talkshow bertema “Kemitraan IKM dan Industri Besar: Memperkuat Rantai Pasok Pangan” di sela-sela penyelenggaraan Krista InterFood 2026.
Gelaran talkshow bertema “Kemitraan IKM dan Industri Besar: Memperkuat Rantai Pasok Pangan” di sela-sela penyelenggaraan Krista InterFood 2026. Foto: Istimewa

IniKabarku.com - Penguatan industri pangan nasional membutuhkan keterlibatan seluruh skala usaha, termasuk Industri Kecil dan Menengah (IKM). Untuk meningkatkan daya saing sektor tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong kemitraan antara IKM dan industri besar agar pelaku usaha kecil dapat terintegrasi dalam rantai pasok nasional.

Upaya itu dilakukan melalui penyelenggaraan Indonesia Food Innovation (IFI) 2026 yang berkolaborasi dengan pameran Krista InterFood 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk unggulan IKM pangan, tetapi juga sarana mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra bisnis. Melalui pertemuan ini, IKM diharapkan memperoleh peluang kolaborasi dan akses pasar yang lebih luas.

Pembinaan dan kapasitas produksi jadi modal kemitraan

Salah satu agenda dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah talkshow bertajuk “Kemitraan IKM dan Industri Besar: Memperkuat Rantai Pasok Pangan” yang digelar pada Rabu (4/11) di NICE PIK 2.

Forum ini menghadirkan perwakilan pelaku IKM, asosiasi industri, penyelenggara pameran, dan pemerintah untuk membahas peluang serta tantangan dalam membangun kemitraan bisnis yang saling menguntungkan.

Eko Pratama dari PT Rasaprima Sukses Makmur, peserta IFI 2023 kategori Intermediate Product, menceritakan pengalamannya mengikuti pendampingan melalui program tersebut. Menurutnya, pembinaan berperan dalam meningkatkan kapasitas usaha, memperbaiki mutu produk, dan mempersiapkan IKM untuk bekerja sama dengan perusahaan besar.

Rasaprima Sukses Makmur memiliki kapasitas produksi hingga 500 ton per tahun untuk produk bumbu dan saus sambal siap pakai atau ready to use. Sebagian produknya dipasarkan ke segmen hotel, restoran, dan kafe (Horeca).

“Produk kami adalah ready to use. Apa yang customer butuhkan kami siapkan,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi produk saja belum cukup untuk meningkatkan daya saing IKM. Pelaku usaha juga perlu memperkuat kapasitas produksi, tata kelola bisnis, konsistensi mutu, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.

Standar produk dan akses pasar perlu diperkuat

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) turut menyoroti sejumlah persyaratan yang perlu dipenuhi IKM sebelum menjalin kemitraan dengan industri besar.

Aspek tersebut meliputi kualitas dan konsistensi produk, kapasitas produksi, standar keamanan pangan, kesinambungan pasokan, serta profesionalisme dalam menjalankan usaha. Seluruhnya menjadi landasan untuk membangun hubungan bisnis jangka panjang yang menguntungkan kedua pihak.

Dari sisi penyelenggara, Krista menilai pameran perdagangan dapat menjadi jembatan bagi IKM untuk memperluas jaringan bisnis. Keikutsertaan dalam pameran, termasuk yang berskala internasional, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk kepada pembeli, distributor, investor, dan calon mitra dari dalam maupun luar negeri.

Kemenperin fasilitasi IKM agar naik kelas

Dukungan pemerintah juga dibutuhkan untuk mempercepat kesiapan IKM memasuki rantai pasok industri yang lebih luas.

Indra Akbar Dilana dari Direktorat IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan Kemenperin menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen mengembangkan IKM pangan melalui beragam program pembinaan.

Fasilitasi tersebut mencakup Indonesia Food Innovation (IFI), peningkatan kapasitas usaha, pendampingan standardisasi dan sertifikasi, promosi produk, restrukturisasi mesin dan peralatan, serta perluasan akses pasar dan kemitraan.

Indra mengatakan, berbagai program itu diarahkan agar IKM tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki kesiapan bisnis untuk terhubung dengan ekosistem industri yang lebih besar.

“Dengan demikian, potensi IKM dapat terhubung langsung dengan kebutuhan industri besar sekaligus menjawab dinamika pasar pangan yang semakin kompetitif,” ungkapnya.

Kolaborasi IFI 2026 dan Krista InterFood 2026 diharapkan menjadi penghubung antara potensi produk lokal dan peluang bisnis yang lebih luas. Sinergi pemerintah, asosiasi, penyelenggara pameran, pelaku IKM, dan industri besar diharapkan memperkuat struktur industri pangan nasional sekaligus mendorong lebih banyak IKM Indonesia untuk naik kelas.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update