Selasa, 03 Nov 2026
Beranda › Berita
Berita

PMI Manufaktur Indonesia Naik ke 54,0, Pengusaha Soroti Biaya Produksi

✍️ Ratna Puspitasari 🕒 03 Nov 2026 👁️ 2x dibaca
ILUSTRASI. Pengusaha mengingatkan pemerintah agar menjaga daya saing biaya produksi supaya momentum pertumbuhan industri tidak terhenti dan bisa berlanjut - Aktivitas Pabrik
ILUSTRASI. Pengusaha mengingatkan pemerintah agar menjaga daya saing biaya produksi supaya momentum pertumbuhan industri tidak terhenti dan bisa berlanjut - Aktivitas Pabrik Foto: REUTERS/Tingshu Wang

IniKabarku.com - Aktivitas manufaktur Indonesia semakin ekspansif pada Oktober 2026. Meski menunjukkan penguatan, kalangan pengusaha mengingatkan pemerintah agar menjaga daya saing biaya produksi sehingga momentum pertumbuhan industri dapat berlanjut hingga 2027.

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P Global meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September 2026. Angka tersebut merupakan capaian tertinggi sejak Maret 2024.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Erwin Aksa menilai kenaikan PMI menunjukkan aktivitas manufaktur semakin kuat. Penguatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan pesanan baru dari pasar domestik maupun ekspor.

Menurut Erwin, pertumbuhan permintaan dari kedua pasar tersebut membuka peluang bagi industri nasional untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan utilisasi kapasitas produksi.

"Bagi dunia usaha, yang paling penting bukan hanya kenaikan indeks PMI, tetapi sumber pertumbuhannya," ujar Erwin kepada KONTAN, Senin (2/11).

Meski demikian, Erwin mengingatkan kenaikan PMI dalam beberapa bulan terakhir belum cukup untuk membuktikan adanya perbaikan daya saing industri secara fundamental.

Keberlanjutan ekspansi manufaktur masih bergantung pada konsistensi pesanan baru, peningkatan produktivitas, pengendalian biaya produksi, serta kemampuan menjaga permintaan hingga 2027.

Pemulihan Manufaktur Belum Merata di Seluruh Subsektor

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani juga memandang kenaikan PMI sebagai sinyal positif bagi industri nasional.

Penguatan tersebut sejalan dengan peningkatan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), yang mencerminkan perbaikan permintaan dan aktivitas produksi. Namun, Shinta mengingatkan bahwa pemulihan manufaktur belum berlangsung merata di seluruh subsektor.

Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha Bank Indonesia pada kuartal III-2026 menunjukkan kinerja industri pengolahan mengalami perbaikan. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 1,53%, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 1,34%.

Sejumlah subsektor turut menopang perbaikan tersebut. Industri makanan dan minuman mencatatkan SBT sebesar 0,91%, disusul industri barang galian bukan logam sebesar 0,16% dan industri logam dasar sebesar 0,12%.

"Artinya, perbaikan aktivitas manufaktur sudah mulai dirasakan, tetapi intensitas pemulihannya masih berbeda-beda antarsektor," kata Shinta.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan industri nasional masih memerlukan dukungan yang sesuai dengan karakteristik dan tantangan masing-masing subsektor.

Pemerintah Dorong Momentum Ekspansi Manufaktur

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai posisi tertinggi sejak Maret 2024.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai peningkatan PMI mencerminkan aktivitas industri nasional yang terus bergerak ke arah lebih baik. Posisi indeks yang semakin jauh di atas ambang ekspansi 50 poin juga menunjukkan penguatan aktivitas manufaktur.

"PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 kembali meningkat dan berada semakin jauh di atas ambang batas ekspansi 50 poin," ujar Sarmuji.

Menurut Sarmuji, momentum tersebut perlu dijaga agar penguatan sektor manufaktur dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional. Terlebih, kenaikan PMI pada Oktober 2026 ditopang oleh pertumbuhan pesanan baru dan permintaan ekspor.

Dengan meningkatnya permintaan dan aktivitas produksi, tantangan berikutnya adalah memastikan ekspansi industri berlangsung secara berkelanjutan. Pengendalian biaya produksi, peningkatan produktivitas, serta penguatan daya saing menjadi faktor penting agar industri nasional mampu mempertahankan pertumbuhan hingga 2027.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update