Harga Properti RI Tumbuh 0,58 Persen, Cadangan Devisa Oktober Capai USD146,8 Miliar
IniKabarku.com - Sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perkembangan yang beragam pada 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti residensial di pasar primer masih tumbuh terbatas pada kuartal III 2026, sementara posisi cadangan devisa nasional pada Oktober meningkat menjadi USD146,8 miliar.
Di sisi perdagangan luar negeri, Indonesia juga mempertahankan surplus neraca perdagangan sebesar USD10,61 miliar sepanjang Januari hingga September 2026, meskipun sektor minyak dan gas (migas) masih mengalami defisit.
Harga Properti Residensial Tumbuh Terbatas
Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di pasar primer tumbuh 0,58 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2026.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.
"Sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal II 2026 sebesar 0,69 persen (yoy)," ujar dia dalam keterangannya dikutip, Sabtu, 7 November 2026.
Tidak hanya pertumbuhan harga yang melambat, penjualan rumah di pasar primer juga mengalami tekanan. Hasil survei mengindikasikan penjualan menurun pada seluruh tipe rumah selama kuartal III 2026.
Secara keseluruhan, penjualan properti residensial di pasar primer masih mengalami kontraksi sebesar 8,43 persen secara tahunan.
Dari aspek pembiayaan pembangunan, pengembang masih mengandalkan dana internal perusahaan. Porsi pembiayaan dari sumber tersebut mencapai 73,94 persen dari keseluruhan kebutuhan dana.
Sementara itu, konsumen yang membeli rumah di pasar primer mayoritas memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
"Sementara itu, mayoritas pembelian rumah di pasar primer oleh konsumen dilakukan melalui skema pembelian Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dengan pangsa sebesar 70,68 persen dari total skema pembelian," ungkap Ramdan.
Cadangan Devisa Oktober 2026 Capai USD146,8 Miliar
Di sektor eksternal, BI melaporkan cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 mencapai USD146,8 miliar. Posisi tersebut meningkat dibandingkan akhir September 2026 yang tercatat sebesar USD146,3 miliar.
Ramdan menjelaskan, kenaikan cadangan devisa dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Perkembangan tersebut berlangsung di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI.
"Di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi," ujar dia dalam keterangannya, Jumat, 6 November 2026.
Dari sisi kecukupan, cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor. Jika turut memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah, nilainya setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang.
Posisi itu masih berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya setara dengan tiga bulan impor.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," terangnya.
Ke depan, BI memperkirakan ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjaga. Kondisi tersebut didukung cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing seiring persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan imbal hasil investasi yang dinilai masih menarik.
"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ungkapnya.
Surplus Perdagangan Indonesia Tembus USD10,61 Miliar
Sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia juga mencatatkan surplus sebesar USD10,61 miliar sepanjang Januari–September 2026. Capaian tersebut terjadi meskipun perdagangan sektor migas masih mengalami defisit dan impor memberikan tekanan terhadap kinerja perdagangan luar negeri.
Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan surplus kumulatif tersebut ditopang sektor nonmigas yang mencatatkan kelebihan perdagangan sebesar USD34,21 miliar. Nilai itu mampu menutup defisit sektor migas sebesar USD23,60 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan surplus tersebut menggambarkan ketahanan eksternal Indonesia di tengah dinamika perdagangan global. Menurutnya, kinerja ekspor nonmigas turut didukung daya saing komoditas nasional dan hubungan dagang dengan sejumlah mitra utama.
“Keberhasilan mempertahankan surplus neraca perdagangan sebesar USD 10,61 miliar hingga September 2026 mencerminkan kokohnya ketahanan eksternal Indonesia di tengah dinamika global," ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis, 5 November 2026.
"Capaian ini tidak lepas dari performa kuat sektor nonmigas kita, yang diperkuat daya saing komoditas nasional serta kerja sama strategis yang erat dengan mitra-mitra dagang utama Indonesia,” ucap dia.
Jika dilihat berdasarkan kinerja bulanan, surplus perdagangan pada September 2026 mencapai USD3,36 miliar. Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan surplus Agustus 2026 sebesar USD3,55 miliar.
Surplus September ditopang perdagangan nonmigas yang mencatatkan kelebihan sebesar USD5,67 miliar. Sebaliknya, sektor migas membukukan defisit USD2,31 miliar.
Komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai USD4,41 miliar. Berikutnya, bahan bakar mineral (HS 27) berkontribusi sebesar USD2,58 miliar, sedangkan besi dan baja (HS 72) mencapai USD1,85 miliar.
Berdasarkan negara mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai USD2,15 miliar. India berada di posisi berikutnya dengan USD1,66 miliar, disusul Filipina sebesar USD0,77 miliar.
