Sabtu, 07 Nov 2026
Beranda › Berita
Berita

MSCI Berpotensi Turunkan Status Indonesia, Modal Asing Bisa Keluar Rp108 Triliun

✍️ Ratna Puspitasari 🕒 06 Nov 2026 👁️ 3x dibaca
MSCI Berpotensi Turunkan Status Indonesia, Modal Asing Bisa Keluar Rp108 Triliun
Foto: MSCI

IniKabarku.com  Potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi Standalone Market pada kuartal II 2027 diperkirakan dapat memicu aksi jual investor asing. Bank Danamon memperkirakan nilai arus modal keluar dari pasar saham domestik bisa mencapai US$2 miliar hingga US$6 miliar atau sekitar Rp36 triliun sampai Rp108 triliun, dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menjelaskan potensi arus keluar tersebut berasal dari dua kelompok investor, yakni pengelola dana pasif yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi dan investor aktif yang mengambil keputusan secara mandiri.

"Nah kami melihat memang potensi keluar dari pasar saham ini berkisar antara US$2 sampai US$6 miliar yang terdiri dari active fund dan juga passive fund," paparnya kepada awak media saat media briefing Bank Indonesia, Sabang, Kamis (5/11/2026).

Menurut Irman, aksi pelepasan saham tidak akan langsung terjadi secara serentak. Investor diperkirakan baru merealisasikan penjualan apabila penurunan klasifikasi benar-benar diberlakukan.

"Artinya kalau kita di downgrade baru dia akan keluar, sehingga sifatnya lebih lagging menuju kuartal dua 2027," sambungnya.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor asing diperkirakan cenderung menahan diri untuk menambah kepemilikan saham hingga masa tunggu berakhir. Strategi wait and see menjadi pilihan sembari mencermati perkembangan pasar dan mencari titik harga terendah saham-saham di Indonesia.

"Makanya mereka tidak serta-merta keluar langsung semuanya, tapi masih banyak yang bertahan," katanya.

Arus Keluar Saham Asing Tidak Otomatis Menekan Rupiah

Meski potensi pelepasan saham asing cukup besar, Irman menilai arus modal keluar dari pasar saham tidak serta-merta menjadi faktor fundamental yang melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Ia menjelaskan, dampak sentimen negatif MSCI diperkirakan lebih terkonsentrasi pada pasar saham dibandingkan instrumen keuangan lainnya. Dengan demikian, tekanan yang muncul di pasar saham belum tentu langsung berlanjut menjadi arus keluar dana dari seluruh sistem keuangan Indonesia.

Berdasarkan studi yang dilakukannya, setiap arus modal asing keluar sebesar US$100 juta dari pasar saham hanya berkaitan dengan depresiasi rupiah sekitar Rp11 hingga Rp12 dari level sebelumnya.

Irman juga mengingatkan bahwa dana hasil penjualan saham belum tentu langsung dibawa keluar dari Indonesia. Investor masih dapat mengalihkan dana tersebut ke sektor atau instrumen lain yang dinilai memiliki risiko lebih rendah di pasar keuangan domestik.

"Kalau pasar saham dia bisa lakukan asset rotation dulu sebelum dia keluar, sehingga sensitivitas rupiah kita itu lebih kecil. Artinya kalau kita lihat direct channel dari outflows yang keluar dari pasar saham, dampaknya harusnya lebih kecil," kata Irman.

Dengan demikian, potensi arus keluar hingga US$6 miliar perlu dibedakan dari jumlah dana yang benar-benar meninggalkan Indonesia. Sebagian dana hasil penjualan saham masih berpeluang berputar di instrumen investasi domestik.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update