Selasa, 20 Okt 2026
Beranda › Berita
Berita

Netanyahu Bantah Israel Rampas Tanah Palestina, Bandingkan dengan Kolonialisme Belanda di Indonesia

✍️ Ratna Puspitasari 🕒 19 Oct 2026 👁️ 3x dibaca
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat melakukan konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio di Yerusalem, Minggu (16/2/2025). Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal akui negara Palestina. Netanyahu menyebut langkah itu hadiah bagi Hamas dan ancam Palestina tak akan berdiri.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat melakukan konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio di Yerusalem, Minggu (16/2/2025). Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal akui negara Palestina. Netanyahu menyebut langkah itu hadiah bagi Hamas dan ancam Palestina tak akan berdiri. Foto: AFP/OHAD ZWIGENBERG

IniKabarku.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah tudingan bahwa negaranya merampas tanah rakyat Palestina dan menyebut Indonesia dalam bantahan tersebut. Dalam video yang diunggah di platform X pada Jumat (16/10/2026), ia menegaskan orang-orang Yahudi bukan penjajah di tanah yang mereka anggap sebagai tanah leluhur.

“Orang-orang Yahudi bukanlah penjajah asing di tanah leluhur kami. Sejarah kami bukanlah proyek kolonial. Tanah kami bukanlah tanah curian,” kata Netanyahu dalam video tersebut.

Bandingkan dengan Belanda di Indonesia

Netanyahu membandingkan keberadaan Israel di wilayah yang ia sebut Yudea dengan kolonialisme Belanda di Indonesia dan Belgia di Kongo.

“Kami bukan orang Belanda di Indonesia. Kami bukan orang Belgia di Kongo. Kami adalah orang Yahudi di Yudea,” ujarnya.

Menurut dia, orang-orang Yahudi telah terikat dengan wilayah itu selama ribuan tahun, dan Yudea merupakan tempat asal mereka.

Israel Disebut Bukan Penghalang Perdamaian

Dalam video yang sama, Netanyahu menegaskan Israel bukan penghalang perdamaian di Timur Tengah. Persoalan utamanya, kata dia, adalah penolakan musuh-musuh Israel dan Amerika Serikat untuk mengakui hak bangsa Yahudi mendirikan negara sendiri.

“Penghalang perdamaian bukanlah Israel. Bukan pula perjuangan kami untuk mempertahankan hak kami untuk hidup di negara kami sendiri,” kata Netanyahu.

Ia menambahkan, Israel tidak akan mempertaruhkan kelangsungan hidupnya demi mengakomodasi pihak yang menolak menerima sejarah dan hak Israel untuk berdiri sebagai negara.

“Kami tentu tidak akan melakukannya. Kami tidak akan pernah melakukannya,” pungkas Netanyahu.

Muncul Usai Kritik Obama

Pernyataan Netanyahu datang setelah mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengkritik cara Israel menangani konflik di Timur Tengah, khususnya di Gaza. Dalam diskusi bersama penulis dan jurnalis Susan McKay di Belfast, Irlandia Utara, Selasa (13/10/2026), Obama memperingatkan bahwa kekuatan militer tidak menjamin keamanan jangka panjang Israel.

Dikutip dari Anadolu, Kamis (15/10/2026), Obama menilai penolakan Israel memberi konsesi kepada Palestina berisiko mengikis legitimasi moral negara itu. Ia mengakui panjangnya sejarah penganiayaan terhadap orang Yahudi di Eropa, tetapi menegaskan penderitaan rakyat Palestina akibat kehilangan tanah juga tak dapat disangkal.

“Yang juga tidak dapat disangkal adalah bahwa mereka mengambil tanah dari orang-orang dan bertindak berlebihan. Orang-orang itu pun dapat dimengerti ketika mengatakan, ‘Ini ketidakadilan dan saya ingin tanah saya kembali,’” kata Obama.

Menurut Obama, pihak yang lebih kuat memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menghentikan siklus kekerasan, bukan hanya mengandalkan keunggulan militer dan teknologi. Ia menilai pemerintah Israel saat ini tampak memilih pendekatan kekuatan militer dan menolak memberi konsesi.

“Tidak berkelanjutan untuk memaksakan kepada mereka suatu kondisi yang tidak akan diterima siapa pun untuk dirinya sendiri,” ujarnya.

💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update